Ahmad Qodri Abdillah Azizy,dkk., Ensiklopedi Tematis Dunia Islam; Akar Dan Awal, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2001.) jilid VII,
Tokoh yang bernama DZunnul Al-Misri. Beliau telah dilahirkan Akhmim di Negara Mesir. Beliau merupakan antara tokoh sufi terkenal pada awal zaman sufi. Disamping itu juga beliau memiliki kedudukan tinggi dizamanya.Nama lengkapnya ialah Abu al- Faidl Tsauban bin Ibrahim Dzunnul al-Nun al-Misri al-Akhmini Qibthy.Ia dilahirkan di Akhmin daerah Mesir.ada juga pendapat yang mengatakan bahawa dia berasal Naubah suatu negeri yang terletak antara Sudan dan Mesir. Tahun kelahirannya tidak banyak diketahui, yang diketahui hanya tahun wafatnya, yaitu 860 M. Menurut Hamka, beliau merupakan puncaknya kaum sufi dalam abad ketiga hijriah. Beliaulah yang banyak sekali menambahkan jalan buat menuju Tuhan. Iaitu mencintai Tuhan, membenci yang sedikit, menurut garis perintah yang diturunkan dan takut terpaling dari jalan yang benar.
Dzunnul al-Misri, memandang bahawa ulama- ulama Hadits dan Fiqh memberikan ilmunya kepada masyarakat sebagai suatu hal yang menarik keduniaan di samping sebagai obor bagi agama. Pandangan hidupnya yang cukup sensitif barangkali menyebabkan para fuqaha mulai membenci dan menentangnya dan sekaligus menuduhnya sebagai seorang zindiq. Tidak hanya sampai di situ, bahkan para fuqaha mengadukannya kepada ulama Mesir yang pada waktu itu dipimpin oleh Muhammad bin Abdul Hakam penganut mazhab Maliki. Dzunnul Misri dipanggil dan ditanya oleh pimpinan ulama itu. Dari berbagai jawapan dan huraian yang diberikannya, maka pimpinan ulama itu menuduhnya sebagai seorang zindiq. Setelah itu Dzunnul merasa bahwa dirinya tidak lagi disenangi masyarakat daerahnya. Untuk itu ia memutuskan untuk sementara waktu bermusafir ketempat lain. Setelah merantau beberapa lama ia kembali pulang ke Mesir dan penguasa waktu itu ialah Ibnu Abi Laits, berfahaman mazhab Hanafi sebagai pengganti Muhammad bin Abdul Hakam yang meninggal. Di Mesir, ia dituduh orang banyak sebagai orang yang zindiq dan demikian pula sikap penguasa waktu itu. Bahkan menyuruhnya pergi ke Baghdad menemui khalifah untuk menerima hukuman penjara.
Akan tetapi di Baghdad banyak sufi yang berasal dari Mesir dan di antara mereka ada yang bekerja sebagai pegawai dilingkungan istana. Para sufi itu berusaha agar khalifah al-Mutawakkil bersedia menerima kedatangan Dzunnul al- Misri. Ternyata kemudian khalifa al-Mutawakkil bersedia menerima kedatangan Dzunnul al-Misri serta menerima ajaran- ajaran yang dikembangkannya. Pada waktu al-Misri akan kembali ke Mesir, khalifah melepasnya dengan penghormatan. Sesampainya di Mesir, ia kembali menyebar luaskan ajaran tasawufnya dan sejak itu pulalah tasawuf berkembang dengan pesat di kawasan Mesir. Namun tidak lama kemudian ia wafat di Jizah dan makamkan di Qurafah shughra pada tahun 245 Hijriyah.
No comments:
Post a Comment